PACITAN – Keberadaan sumur Njero di Dusun Ngerjoso, Desa Sukoharjo, menjadi saksi bisu berdirinya Kabupaten Pacitan. Bagaimana tidak, konon sumur Njero ini merupakan peninggalan Raden Tumenggung Notopuro atau bupati pertama Pacitan.
Uniknya sumur yang sudah berusia sekitar 259 tahun ini tidak pernah kering meskipun di musim kemarau. Joko Wibowo (60) sesepuh desa setempat mengatakan, area petilasan sumur Njero ini dulunya merupakan sebuah kadipaten atau cikal bakal Kabupaten Pacitan.
Dimana sebelum Raden Ngabehi Notopuro dari Ngerjoso diangkat menjadi tumenggung, wilayah tersebut masih menjadi kekuasaan Keraton Surakarta Hadiningrat. “Notopuro diangkat menjadi bupati pertama yang kala itu bergelar tumenggung diera tahun 1745-1757. Dan area ini dulunya memang benar merupakan cikal bakal Kabupaten Pacitan, dan salah satu peninggalannya ya sumur ini, ” katanya. (19/02/24).
Sementara setiap memperingati Hari Jadi Pacitan, ritual pengambilan air Tirto Wening dari sumur tersebut selalu digelar oleh masyarakat desa setempat. Seperti yang dilakukan dalam peringatan hari jadi Pacitan ke 279 ini.
Pengambilan air Tirto Wening diawali dengan pembacaan do’a yang dilakukan oleh sesepuh desa. Tepat pukul 24.00 WIB, ritual pengambilan Tirto Wening tersebut pun dimulai. Air yang diambil dari sumur Njero kemudian dimasukkan kedalam kendi, dan diarak menuju kantor desa.

Tak sampai disitu saja, sebagian dari air Tirto Wening juga jadi rebutan warga yang hadir pada upacara adat tersebut. Sebagian warga menggunakan air untuk sekedar membasuh wajah, bahkan ada pula yang meminumnya.
Masyarakat percaya bahwa air dari peninggalan bupati pertama Pacitan itu bisa membawa berkah. “Ya semoga saja bisa membawa berkah, dan kalau saya gunakan membasuh muka ini biar bisa awet muda, ” ujar Mariyati warga setempat.
Kepala Desa Sukoharjo Solichin mengungkapkan, upacara adat dalam ritual pengambilan air Tirto Wening tersebut sudah menjadi tradisi bagi masyarakat desa setempat menjelang Hari Jadi Pacitan.
Pihaknya menambahkan, melalui upacara adat ini diharapkan khususnya generasi milenial agar turut serta dalam menjaga dan melestarikan warisan tradisi leluhur. “Setiap tahun selalu kita adakan, utamanya dalam melestarikan adat dan tradisi yang semakin tergerus oleh zaman, ” katanya. (Edwin Adji)

