Tak hanya sarat nilai tradisi, Festival Gerabah Lempung Agung 2025 di Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, juga menjadi wujud kolaborasi antara warga dengan PLN Nusantara Power Unit Pembangkit (UP) Pacitan. Melalui inovasi Gerabah FABA—campuran tanah liat dengan limbah pembakaran batu bara dari PLTU Pacitan—festival ini menghadirkan sentuhan baru yang ramah lingkungan.

Beginilah suasana Festival Gerabah Lempung Agung tahun 2025 di Desa Purwoasri, Pacitan. Ratusan warga dari Dusun Purwosari dan Gunung Cilik berkumpul di area persawahan Dusun Padi untuk mengikuti ritual pengambilan tanah liat, bahan utama pembuatan gerabah.

Dengan peralatan tani dan perkakas dapur di tangan, warga bergotong royong dalam prosesi adat yang sarat kebersamaan. Kaum pria menggali tanah, sementara kaum perempuan mengumpulkan tanah liat untuk dijadikan bahan baku gerabah.

Ratusan penari lokal mempersembahkan Tari Gerabah massal khas Desa Purwoasri, diiringi tabuhan alat musik tradisional dari berbagai produk gerabah. Sejumlah seniman bahkan menari di tengah lumpur, menggambarkan rasa syukur atas berkah bumi yang menghidupi.

Ritual sederhana ini mencerminkan nilai kerukunan dan persaudaraan yang masih dijaga kuat oleh masyarakat Purwoasri. Tanah liat hasil galian kemudian diarak menuju panggung utama dan diserahkan kepada para pengrajin gerabah.

Tahun ini, Festival Gerabah Lempung Agung juga menghadirkan inovasi baru melalui kolaborasi antara komunitas pengrajin dengan PLN Nusantara Power UP Pacitan. Mereka memperkenalkan Gerabah FABA, hasil olahan antara tanah liat dan limbah pembakaran batu bara dari PLTU Pacitan. Inovasi ini menjadi bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan sekaligus ekonomis.

“Kami ingin mendorong pemanfaatan limbah FABA agar bernilai guna dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,”
ujar Maida Muzayyanah, Manager Business Support PLN NP UP Pacitan.

Sementara itu, Rining Astuti, salah satu pengrajin gerabah, mengaku inovasi ini membantu mereka menghasilkan produk yang lebih kuat, ringan, dan tahan lama tanpa mengurangi keaslian sentuhan tradisional.

Ketua Dekranasda Pacitan, Efi Suraningsih, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengapresiasi keberlanjutan festival yang semakin ramai dan inovatif setiap tahunnya.

“Festival ini bukan hanya pelestarian budaya, tapi juga ruang kolaborasi antara tradisi dan teknologi ramah lingkungan,”
ungkap Efi.

Festival Gerabah Lempung Agung bukan sekadar ritual budaya, melainkan simbol sinergi antara tradisi dan inovasi. Dari tanah liat yang sederhana, lahir karya yang menghidupkan harapan — menjadikan Desa Purwoasri tak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menatap masa depan dengan kreativitas.

Reporter: Tim Liputan JTV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *