PACITAN- Kekeringan akibat dampak musim kemarau di Pacitan kian mengkhawatirkan. Dari sebelumnya di lima wilayah kecamatan, saat ini menjadi 11 Kecamatan yang krisis air. Yakni, Kecamatan Pacitan, Donorojo, Punung, Arjosari, Bandar, Kebonagung, Nawangan, Sudimoro, Tegalombo, Ngadirojo, Pringkuku. Dari 11 wilayah Kecamatan tersebut, 31 Desa 90 Dusun telah mengajukan bantuan pasokan air bersih setiap hari.” Hanya Kecamatan Tulakan yang belum melaporkan terdampak kekeringan,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan Radite Suryo Anggono.
Berdasarkan catatan adan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat, jumlah warga terdampak yang sebelumnya 7.412 jiwa atau 2.026 Kepala Keluarga (KK), kini menjadi 15.949 jiwa atau 7.277 KK. Atau meningkat dua kali lipat dari mapping sebelumnya pada pada pekan lalu.” Droping kami lakukan setiap hari,” tambahnya.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji menambahkan, kekeringan mendapat atensi khusus Pemkab Pacitan, pihaknya mengaku telah mengutus Organisasi Pemerintah Daerah( OPD) bekerja keras agar kekeringan tidak terjadi dari tahun ketahun. Serta berkomitmen memberikan layanan 24 jam kepada masyarakat.” Kami berkomitmen memberikan layanan 24 jam kepada masyarakat. Kedepan harus tuntas, kekeringan tidak boleh ada setiap tahun,” ujar mas Aji.
Untuk penanganan jangka panjang, Droping air hanya memberi solusi sesaat. Pihaknya tengah meramu bebebagai solusi diantaranya, pembangunan sumur bor, sistem penyediaan air minum (SPAM), serta menarik sumber mata air yang ada atau menemukan sember air yang akan diintervensi oleh pemerintah daerah teknologi. “Yang utama penanganan jangka panjang agar kekeringan tidak terjadi setiap tahun,” sebutnya.
Bupati menekankan kerja bareng, antar pemkab, OPD, desa sampai dusun. Menurutnya hasil mapping yang dilakukan, ada wilayah yang tidak ada sumber air. Sebaliknya, ada wilayah yang mempunyai sumber air namun belum tereksplorasi maksimal. “Ada sumber air sudah mendapatkan bantuan SPAM, namun tidak berjalan karena debit airnya kecil sehingga tidak berjalan, semuanya butuh lerja bareng,” tegas mas Aji.
Reporter : Edwin Adji

