Srikandi PDIP lolos ke DPRD Provinsi Jatim
(Foto : Istimewa)
Pacitan, kabarpacitan.com – Kursi DPRD Provinsi Jawa Timur Periode 2019-2024 bakal diisi sejumlah nama baru. Beberapa diantaranya merupakan politisi asli Kabupaten Pacitan. Selain Putra Bupati Pacitan, Eko Prasetyo Wahyudiarto, pemilik kursi DPRD Provinsi asal Pacitan adalah Diana Amaliyah Herawatiningsih.
Nama terakhir belum begitu populer bagi sebagian masyarakat di kota berjuluk 1001 gua. Ini karena perempuan yang akrab disapa Sasa itu merintis karirnya di perantauan. Terlebih saat masa kampanye, Dia tidak memasang satupun alat peraga kampanye di sepanjang jalan di Pacitan. 
“Benar. Saya lahir di Desa Pakisbaru, Nawangan. Ayah seorang pensiunan Guru SD dan Ibu hanya pedagang kecil di kampung. Sejak kelas VI SD sudah merantau (menimba pendidikan) di Kabupaten Wonogiri. SMA di Nawangan, kemudian kuliah di Surabaya,” kata caleg PDI Perjuangan Dapil IX Jatim saat dihubungi melalui pesan singkat.
Perjuangan Sasa merebut kursi di DPRD Provinsi laik dijadikan inspirasi. Sempat gagal dalam 2 kali pemilu, Srikandi PDI Perjuangan itu tak pernah patah semangat hingga berhasil mengalahkan petahana yang juga kelahiran Pacitan, Giyanto.
“Indekos sejak dini membantu membentuk karakter (perempuan) kuat dan tangguh. (Saya) Pernah maju di Pileg 2009 dan 2014 tetapi gagal. Alhamdulillah untuk partisipasi yang ke-3 mendapat amanah dan kepercayaan masyarakat pemilih,” lanjut perempuan yang hoby membaca buku tersebut.   
Perempuan kelahiran 28 Maret 1980 itu mengaku tidak mengeluarkan biaya besar untuk terpilih sebagai wakil rakyat di provinsi. Dia hanya mengandalkan hubungan keluarga, dan relasi pertemanan yang sudah terbangun jauh hari sebelum pemilu berlangsung. Selain itu pegiat literasi ini juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana berkomunikasi dan kampanye.
“Modalnya hanya kenal dan percaya. Saya data semua kenalan lalu mohon do’a restu dan dukungan secara langsung. Praktis selama proses (pemilu) hanya mengeluarkan sekitar Rp. 20 juta untuk cetak kartu nama, biaya operasional dan pasang iklan media sosial,” ujarnya.
Aktivitis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ketika masih kuliah itu menempatkan politik sebagai sarana pengabdian kepada masyarakat. Ini dibuktikan Sasa saat menjadi salah satu inisiator program perpustakaan di desa-desa serta penyediaan mobil ambulance bagi masyarakat.
“Kerja politik itu tidak hanya saat pemilu tetapi dibangun sehari-hari dalam berkehidupan dengan masyarakat. Prinsipnya menanam benih yang baik maka akan tumbuh baik pula,” pungkasnya.
Penulis : Sujarismanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *