kabarpacitan.net– Intensitas bencana Pacitan kian meninggkat. Tiap minggu ada saja laporan masuk ke BPBD setempat. Bahkan, beberapa hari terakhir jumlahnya tak alami penurunan. Seiring, intensitas penghujan.

Kepala Pelaksana (kalak) BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo mencatat, hingga bulan ke 11 ini jumlah bencana tembus 345 kasus. Angkat tersebut disokong dari beberapa kejadian, seperti tanah longsor 268 kejadian, banjir 8 kejadian, angin kencang 33 kejadian, serta beberapa kasus lainnya. Bahkan seiring fenomena La Nina saat ini diprediksi bencana bakal terus terjadi. ”Paling banyak memang kejadian tanah longsor yang kita temukan tahun ini,” kata Didik.

Akibat kejadian tersebut Didik mengatakan ratusan juta kerugian dirasakan masyarakat. Terbanyak, merusak perumahan warga. Longsor misalnya mengakibatkan 273 rumah rusak mulai ringan hingga berat. Bahkan beberapa diantaranya tercatat rata dengan tanah. Selain dampak lain, seperti 22 ruas jalan rusak, 14 talut serta 6 irigasi warga ikut terdampak. ”Fasilitas pendidikan serta lahan pertanian juga ikut rusak utamanya karena banjir dan tanah gerak,” jelasnya.

Disamping tingginya potensi bencana, Didik mengamini budaya masyarakat membangun rumah dikawasan berbahaya ikut mendongkrak data kebencanaan itu. Mudah baginya, menemukan warga yang tinggal di kaki bukit pun tepian sungai. Padahal kawasan-kawasan itu masuk zona merah bencana. Baik banjir hingga longsor. Alhasil, resiko meningkat seiring potensi kebencanaan yang ada. ”Memang kita sadari juga Pacitan kondisi geografisnya seperti ini, lembah berbukit dengan batuan kars, jadi sulit mencari lokasi ideal,” ungkapnya

Selain edukasi dan mitigasi warga via desa, Didik menambahkan beberapa petugas BPBD kini disebar di beberapa kecamatan rawan bencana. Selain meningkatkan kecepatan tanggap bencana. Penempatan tersebut sekaligus mengkaji potensi bencana ditempat masing-masing. Meminta warga berhati-hati khususnya saat hujan lebat terjadi. ”Bencana kita terjadi saat penghujan lebih tinggi daripada kemarau, karena itu kita waspadai apalagi ini belum masuki puncak penghujan,” pungkas Didik (ed)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *