Pacitan – Empat desa yang tergabung dalam wilayah Sekawandoro—yakni Desa Sendang, Kalak, Sawahan, dan Widoro di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan—bersatu dalam gelaran prosesi budaya adat bertajuk “Manggulan Wengker Ngertati”, Selasa (25/6/2025).

Tradisi ini merupakan bentuk pelestarian adat warisan leluhur masyarakat Ngertati, sebuah daerah yang dahulu dikenal sebagai bagian dari Wengker (wewengkon atau kawasan kekuasaan kecil ala keraton). Dalam sejarahnya, wilayah ini dihuni oleh masyarakat yang hidup dengan nilai-nilai luhur, termasuk tradisi unik bernama “manggulan”.

Menurut catatan budaya lokal dan buku karya Kung Ni, “manggulan” adalah rangkaian kegiatan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat sebelum hajatan pernikahan. Tujuannya tak sekadar mempersiapkan kebutuhan pesta, tetapi juga sebagai bentuk doa dan permohonan kelancaran untuk pasangan yang akan menikah.

Dahulu, prosesi ini sangat kompleks. Mulai dari aktivitas “Celuk-Celuk”, “Tolu Gejog”, hingga “Nutu dan Nosoh Wulen Pari”—semuanya menggambarkan gotong royong masyarakat dalam menyiapkan pesta dengan penuh suka cita. Namun, seiring waktu dan perkembangan teknologi, alat tradisional seperti lesung kini hampir tak digunakan, tergantikan oleh mesin modern.

Lewat pertunjukan ini, “Manggulan Wengker Ngertati” menjadi visualisasi nyata tradisi manggulan tempo dulu, agar generasi muda tidak melupakannya.

Yang membuat acara ini istimewa, setiap proses dalam manggulan dikemas dalam bentuk tari-tarian tradisional, diiringi musik gamelan yang menggugah rasa. Setiap gerakan tari menggambarkan tahapan-tahapan seperti memetik padi, menumbuk, memasak, hingga menyajikan makanan untuk masyarakat.

Kung Ni, Penggagas “Manggulan Wengker Ngertati” menjelaskan bahwa tradisi ini berakar kuat dari kebiasaan nenek moyang masyarakat Pacitan. “Tradisi manggulan adalah bentuk rasa syukur dan doa bersama sebelum acara inti pernikahan. Kita ingin menghidupkan kembali nilai-nilai itu dalam bentuk pertunjukan budaya,” ujarnya.

Ketua DPRD Pacitan, Arif Setia Budi, turut hadir dan menyampaikan apresiasi atas inisiatif warga dan pemerintah desa. Ia menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah daerah agar tradisi serupa bisa terus dikembangkan di desa-desa lain.

“Sekawandoro ini punya kekayaan budaya dan juga alam, seperti Pantai Klayar yang sudah dikenal luas. Jika dipadukan, ini bisa menjadi potensi wisata budaya yang luar biasa dan berdaya saing,” tegasnya.

Acara juga dimeriahkan oleh penampilan seni dari berbagai tingkatan—mulai dari anak-anak TK, SD, SMP, SMK, hingga kelompok seni masyarakat umum. Keterlibatan lintas usia ini menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga warisan yang hidup di tangan generasi masa kini.

“Manggulan Wengker Ngertati” bukan hanya peristiwa budaya, melainkan cermin kuatnya identitas dan semangat kebersamaan masyarakat Sekawandoro dalam merawat warisan leluhur. Sebuah langkah kecil namun bermakna besar menuju pelestarian budaya lokal yang otentik dan membanggakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *